PROMOSI !!! JANA PENDAPATAN DENGAN AQURA2U

PROMOSI!!! JANA PENDAPATAN DENGAN AQURA2U

aqura2u.com

Monday, November 30, 2009

KUFUR dan 7 perkara yang membinasakan

السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته
KUFUR

‎Definisi kufur: Kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’; kufur adalah tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakan- nya.

Kufur secara garis besar dibagi menjadi dua jenis: Kufur besar dan Kufur kecil.

1. Kufur Besar: Kufur besar bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Kufur besar ini sendiri ada lima kategori:
a. Kufur karena mendustakan, dalilnya adalah firman Allah: “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? (QS. 29:68).
b. Kufur karena enggan dan sombong,padahal membenarkannya. . Dalilnya adalah firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 34.
c. Kufur karena ragu, dalilnya adalah firman Allah dalam surat al-Kahfi ayat 35-38.
d. Kufur karena berpaling, dalilnya adalah firman Allah dalam surat al- Ahqaaf ayat 3, yang artinya : “Dan orang-orang kafir itu berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka”.
e. Kufur karena nifaq, dalilnya adalah firman Allah Ta’âla dalam surat al-Munâ fiqûn ayat 3, yaitu (artinya): “Yang demikian itu adalah karena mereka ber- iman (secara lahirnya), lalu kafir (secara batinnya), kemudian hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti”.

2. Kufur Kecil: Kufur kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia adalah kufur ‘amaliy . Kufur ‘amaliy ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan as- Sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Seperti kufur nikmat, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya surat an-Nahl ayat 83, yaitu (artinya): “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir”.
Termasuk juga membunuh orang Muslim, sebagaimana disebutkan dalam sabda NabiShallallâhu 'Alaihi Wasallam: “Mencaci seorang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran”. Dalam sabdanya yang lain: “Janganlah kalian sepeninggalku kembali lagi menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Termasuk juga bersumpah dengan nama selain Allah. Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah berarti ia telah kafir atau musyrik”. Yang demikian itu karena Allah tetap menjadikan para pelaku dosa besar sebagai orang-orang mukmin, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang ber- iman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh”. (al-Baqarah: 178)
Allah tidak mengeluarkan orang yang membunuh dari golongan orang-orang ber- iman, bahkan menjadikannya sebagai saudara bagi wali yang (berhak melaku- kan) qishash sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 178. Yang dimaksud dengan saudara dalam ayat tersebut adalah saudara se-agama (Q.S. al-Hujurat : 9-10).

Kesimpulan

Perbedaan antara Kufur Besar dengan Kufur Kecil:

1. Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak menghapuskan (pahala) amalnya, tetapi bisa mengurangi (pahala)nya sesuai dengan kadar kekufura nnya, dan pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.

2. kufur besar menjadikan pelakunyakekal di dalam neraka, sedangkan kufur kecil, jika pelakunya masuk neraka maka ia tidak kekal di dalamnya, dan bisa saja Allah memberi ampunan kepada pelaku nya sehingga ia tidak masuk neraka sama sekali.

3. kufur besar menjadikan halal darah dan harta pelakunya, sedangkan kufur kecil tidak demikian.

4. kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya, antarapelakunya dengan orang-orang mukmin. Orang-orang mukmin tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, betapapun ia adalah keluarga terdekat. Adapun kufur kecil maka ia tidak melarang secara mutlak adanya kesetiaan, tetapi pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan sesuai dengan kadar keimanannya, dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kadar kemaksiatannya. Hal yang sama juga dikatakan dalam perbedaan antara pelaku syirik besar dengan syirik kecil.

Mengenai pertanyaan anda: Apakah kita boleh menyebut kafir kepada mereka yang selain Muslim, misalnya orang kristen?
Berikut kami lampirkan fatwa semisal dari al-Lajnah ad-Daaimah lil buhuts al-'Ilmiyyah wal Ifta', sebuah majlis fatwa resmi kerajaan Arab Saudi (Semacam Majlis Ulama Indonesia/MUI) :

S: Apakah boleh seorang muslim mengatakan kepada orang Yahudi atau Kristen ; KAFIR…?

J: Boleh bagi seorang Muslim untuk mengatakan kepada orang Yahudi atau kepada orang Kristen bahwa ia KAFIR ; karena demikianlah Allah menyifatkan mereka di dalam al-Qur’an dan hal ini sesuatu yang dimaklumi bagi orang yang mentadabbur al-Qur’an, diantaranya firmanNya:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari Ahli Kitab dan orang- orang yang berbuat syirik (tempatnya) di neraka Jahannam dan mereka kekal di dalamnya”. (Q.S. al-Bayyinah: 6). Ahlul Kitab yang dimaksud disini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Wabillaahit Taufiq, Washallallaahu 'ala Nabiyyina Muhammad Wa aalihi Washahbihi Wasallam.
(Fatwa al-Laj- nah ad-Daaimah lil buhuts al-'Ilmiyyah wal Ifta' , jld. II, no. 4252, hal. 143)

S: Apakah boleh memanggil seorang Nashrani sebagai KAFIR?

J: Ya, boleh kita menamakan/menyebut orang-orang Yahudi dan Nashrani, menyi- fatkan keduanya serta memvonisnya dengan KEKUFURAN ; karena Allah-lah Yang menamakan dan memvonis terhadap mereka demikian. Allah berfirman:“Orang- orang kafir yakni ahli Kitab dan orang- orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agama-nya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”. (Q..S. al-Bayyinah: 1). Dan Ahlul Kitab disini adalah orang-orang Yahudi dan Nashrani. Dan firmanNya lagi: “Sesungguhnya telah kafirlah orang- orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam’ ..”. ( Q.S. al-Mâidah: 72). Dan firmanNya yang lain: “Sesungguhnya kafirlah orang- orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga (trinitas red)…” .. Dan nash-nash al-Qur’an dan Hadits Nabawiyyah yang lainnya yang memvonis kafir terhadap mereka. Wabillaahittaufiq, Washallallaahu 'ala nabiyyina Muhammad Wa’ala Aalihi Washahbihi Wasallam.


(Fatwa al-Lajnah ad-Daaimah lil buhuts al-'Ilmiyyah wal Ifta' , jld. II, no. 4252, hal.. 143-144).
Wallaahu a'lam. Wassalaamu 'alaikum Warahmatullaahi Wabarokaatuh. " wahai tuhan ku, aku tak layak kesyurgamu ...namun tak pula aku sanggup keNerakamu.. .......,kami lah hamba yang mengharap belas darimu ........Ya Allah jadikan lah kami hamba2 mu yang bertaqwa.... ..ampunkan dosa2 kami, kedua ibubapa kami, dosa semua umat2 islam yang masih hidup mahupun yang telah meninggal dunia.

Sunday, November 29, 2009

Memberi Atau Menerima Suap Sama Sama Di Neraka

Assalamualaikum Wr Wb

Bissmillahirrohmaan irrohiim

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. QS. Al Baqarah (2) : 188.

Memberi uang suap kepada qadhi atau hakim agar ia membungkam kebenaran atau melakukan kebatilan merupakan suatu kejahatan. Sebab perbuatan itu mengakibatkan ketidakadilan dalam hukum, penindasan orang yang berada dalam kebenaran serta menyebarkan kerusakan di bumi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

Dalam sebuah hadits marfu’ riwayat Abu Hurairah disebutkan : “Allah melaknat penyuap dan penerima suap dalam (urusan) hukum” (HR Ahmad, 2/387; shahihul jami’ : 5069).

Saat ini, suap menyuap sudah menjadi kebiasaan umum, bagi sebagian pegawai, suap menjadi income / pemasukan yang hasilnya lebih banyak dari gaji yang mereka peroleh. Untuk urusan suap menyuap banyak perusahaan dan kantor yang mengalokasikan dana khusus. Berbagai urusan bisnis atau mua’malah lainnya, hampir semua dimulai dan di akhiri dengan tindak suap. Ini tentu sangat tidak menguntungkan bagi orang-orang miskin. Karena adanya suap, undang-undang dan peraturan menjadi tak berguna lagi. Soal suap pula yang menjadikan orang yang berhak diterima sebagai karyawan digantikan mereka yang tidak berhak.

Dalam urusan administrasi misalnya, pelayanan yang baik hanya diberikan kepada mereka yang mau membayar, adapun yang tidak membayar, ia akan dilayani asal-asalan, diperlambat, atau diahirkan. Pada saat yang sama, para penyuap yang datang belakangan, urusannya telah selesai sejak lama.

Karena soal suap menyuap, uang yang semestinya milik mereka yang bekerja, bertukar masuk kedalam kantong orang lain, disebabkan oleh hal ini, juga hal yang lain maka tak heran jika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memohon agar orang-orang yang memiliki andil dalam urusan suap menyuap semuanya dijauhkan dari rahmat Allah.

Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu' anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Semoga laknat Allah atas penyuap dan orang yang disuap” (HR Ibnu Majah, 2313; shahihul jam’ : 5114).

Nasehat : Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, Sumber Dosa Dosa yang dianggap biasa

Saturday, November 28, 2009

Mendulang Mutiara Hikmah Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim ‘alaihi...

Dalam masa 23 tahun, Rasulullah s.a.w. mengajak penyembah berhala, kaum Yahudi dan orang-orang Nasrani kepada tauhid yang murni dengan dakwahnya yang mantap.

Tidak pernah tersembunyi suaranya, dan tidak pernah hilang gemanya, namun mereka tetap menuduh atau berpendapat bahawa Rasulullah meremehkan akal mereka dan akan menghancurkan kekuasaan, kewibawaan serta peraturan mereka.

Oleh kerana itu mereka mengumpul kekuatan untuk menghancurkan dakwah Rasulullah s.a.w.

Walaupun mendapat tentangan Rasulullah bertambah berani meneruskan dakwah. Setiap kali mereka memperhebat gangguannya baginda tetap tabah serta bertambah kuat untuk mengatasinya dengan penuh kesabaran.

Kemudian Allah memberi izin berjihad, memerangi mereka maka baginda pun berjihad sampai Allah memberikan kemenangan kepada agamanya. Maka orang yang kelmarin menjadi musuh akhirnya menjadi kawan.

Demikian juga orang yang musyrik berduyun-duyun masuk agama Allah, mereka menjunjung tinggi syiar Allah bahkan mereka menjadi orang yang menyediakan jiwa raga mereka untuk Allah dan RasulNya.

Sabar menerima gangguan kaum musyrik

Rasulullah sabar terhadap gangguan-gangguan orang musyrik dengan ucapan-ucapan mereka yang menusuk hati. Sesungguhnya amat sakit rasanya luka yang ditimbulkan oleh tajamnya ucapan-ucapan yang dilontarkan mereka.

Apalagi dalam masyarakat yang amat mendambakan pujian dan nama baik dan sangat benci kepada celaan dan ejekan.

Rasulullah s.a.w. pada permulaan dakwahnya ingin sekali dipercayai oleh kaumnya untuk mengangkat mereka dari lembah kesesatan ke puncak hidayah dan petunjuk Allah dan dari buta agama kepada mengerti akan kebenaran.

Memang baginda telah dikenal oleh kaumnya sebagai seorang yang berakal, bijaksana, benar, dapat dipercaya dan iffah. Mereka belum pernah mendengar baginda berdusta dan belum pernah pula mereka menemukan sifat yang buruk.

Namun orang-orang musyrik menentang dan melawan yang benar. Mereka takbur dan enggan meninggalkan cara hidup nenek moyang mereka.

Mereka sengaja membuat-buat dusta bahkan mereka menuduh Rasulullah s.a.w. sebagai seorng yang bermimpi, banyak angan-angan, menceritakan apa yang dikhayalkannya dan yang dilihat dalam mimpinya.

Mereka melemparkan tuduhan-tuduhan yang jahat kepada baginda, dengan cara-cara yang biasa diucapkan oleh penyair-penyair mereka yang penuh berisi khayalan yang sangat mahir melebih-lebihkan sesuatu dan pandai mempengaruhi orang awam. Mereka mengatakan bahawa baginda seorang gila, padahal baginda adalah orang yang paling cerdas dan paling berakal di antara mereka.

Allah SWT berfirman yang bermaksud:

Bahkan mereka berkata (pula) (Quran itu adalah) mimpi yang kalut, malah diadakannya bahkan dia sendiri seorang penyair, maka dia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat, sebagaimana Rasul-Rasul yang telah lalu diutus. (Al-Anbiya: 5)

Allah SWT berfirman bermaksud:

Dan mereka berkata: Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami kerana seorang penyair. (AshShaffat: 36)

Allah SWT berfirman bermaksud:

Bahkan mereka mengatakan dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya. (AthThuar:30)

Maksudnya kami menunggu-nunggu kecelakaan baginya semoga dia ditimpa bahaya atau mati sehingga kami selamat daripadanya.

Allah SWT berfirman bermaksud:

Mereka berkata: Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. (Al Hilr:6)

Tetapi Allah telah membersihkan Rasulullah dari tuduhan yang bermacam-macam yang buruk itu dengan FirmanNya yang bermaksud: Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung, sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. (Al-Haaqqah 41-42)

Allah SWT berfirman bermaksud:

Demi Qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhan kamu Muhammad sekali-kali bukan orang gila. (Al Qalam:1-2)

Ramai orang musyrik yang mengganggu Rasulullah dan menyakiti baginda dengan perbuatan-perbuatan jahat disebabkan kemarahan, kehilangan akal, dan kebodohan mereka.

Mereka hendak menghalang-halangi baginda dari agama Allah. Supaya putus asa dari keberhasilan perjuangannya dan supaya para pengikutnya meninggalkan baginda. Walaupun demikian baginda tetap menghadapi perbuatan mereka yang jahat itu dengan kesabaran yang dapat membawanya kepada kemenangan.

Dengan tabah dan bijaksana dapat mengalahkan kebodohan dan menggagalkan tujuan mereka.

Kesabarannya yang luhur ini cukup menjadi tanda bahawa Rasulullah adalah benar dalam menyampaikan risalah dari Tuhannya. Keraja jika tidak demikian baginda tidak akan tahan menderita dalam menghadapi permusuhan mereka, sedang baginda tidak pernah menginginkan kekayaan harta benda.

Oleh kerana itu berduyun-duyunlah orang-orang memeluk agama Islam, baik secara peribadi mahupun berkumpulan.

Mereka pun berani menderita dalam menghadapi gangguan-gangguan orang musyrik dengan keberanian dan ketabahan yang luar biasa bahkan mereka dengan sukarela membela Rasulullah. Mengorbankan segala sesuatu demi untuk menghadapi tentangan musuh-musuhnya.

Friday, November 27, 2009

Mendulang Mutiara Hikmah Perjalanan Hidup Nabi Ibrahim ‘alaihi...

Al-Ustaz Ruwaifi’ bin Sulaimi

edited by Mohd Masri

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Seorang Teladan Yang Baik

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah seorang teladan yang baik. Perjalanan hidupnya sentiasa berpijak di atas kebenaran dan tidak pernah meninggalkannya. Posisinya di dalam agama amat tinggi (seorang imam) yang sentiasa patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mempersembahkan segala ibadahnya hanya untuk-Nya semata. Beliau juga tidak pernah lupa mensyukuri segala nikmat dan kurnia ilahi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. شَاكِرًا لِأَنْعُمِهِ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan selalu berpegang kepada kebenaran serta tidak pernah meninggalkannya (hanif). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia sentiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah.” (An-Nahl: 120-121)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan pembawa panji-panji tauhid.

Perjalanan hidupnya yang panjang sarat dengan dakwah kepada tauhid dan segala liku-likunya. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan beliau sebagai teladan dalam hal ini, sebagaimana dalam firman-Nya:



قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ إِلاَّ قَوْلَ إِبْرَاهِيْمَ لِأَبِيْهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ. رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaumnya: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya, sehinggalah kalian beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapanya; ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tidak dapat menolak sesuatu pun daripada kamu (seksaan) Allah’. (Ibrahim berkata): ‘Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir, dan ampunilah kami ya Rabb kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Mumtahanah: 4-5)

Demikian pula, beliau selalu mengajak umatnya kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mencegah mereka daripada sikap taqlid buta terhadap ajaran sesat nenek moyang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُوْنَ. قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِيْنَ. قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلاَلٍ مُبِيْنٍ. قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاَّعِبِيْنَ. قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ. وَتَاللهِ لَأَكِيْدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِيْنَ. فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلاَّ كَبِيْرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُوْنَ

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya: ‘Patung-patung apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya?’ Mereka menjawab: ‘Kami mendapati bapa-bapa kami menyembahnya.’ Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya kalian dan bapa-bapa kalian berada dalam kesesatan yang nyata.’ Mereka menjawab: ‘Apakah kamu datang kepada kami dengan bersungguh-sungguh atau apakah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?’ Ibrahim berkata: ‘Sebenarnya Rabb kalian adalah Rabb langit dan bumi, Yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang boleh memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya.’ Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berkeping-keping kecuali yang terbesar (induk) daripada patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (Al-Anbiya`: 52-58)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya, menunjukinya ke jalan yang lurus, serta mengurniakan kepadanya segala kebaikan dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اجْتَبَاهُ وَهَدَاهُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. وَآتَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَإِنَّهُ فِي اْلآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِيْنَ

“Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami kurniakan kepadanya kebaikan di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat termasuk orang-orang yang soleh.” (An-Nahl: 121-122)

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkatnya sebagai khalil (kekasih). Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَاتَّخَذَ اللهُ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً

“Dan Allah mengangkat Ibrahim sebagai kekasih.” (An-Nisa`: 125)

Dengan setiap keutamaan itulah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti agama beliau ‘alaihissalam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيْمَ حَنِيْفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.’ Dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (An-Nahl: 123)

Demikianlah sekelumit tentang perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan segala keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kurniakan kepadanya. Barangsiapa mempelajarinya dengan penuh penghayatan, nescaya dia akan mendulang mutiara hikmah dan pelajaran berharga daripadanya. Apatah lagi pada sejumlah perkara di dalam bulan Zulhijjah yang hakikatnya tidak boleh dipisahkan daripada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Beberapa Amalan Mulia di Bulan Zulhijjah

Bulan Zulhijjah merupakan salah satu bulan mulia di dalam Islam. Ini kerana di dalamnya terdapat amalan-amalan mulia; puasa Arafah, haji ke Baitullah, ibadah korban, dan sebagainya, yang mana sebahagiannya tidak boleh dipisahkan daripada diri Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Di antara amalan mulia tersebut adalah:

a) Haji ke Baitullah
Haji ke Baitullah merupakan ibadah yang sangat mulia dalam agama Islam. Kemuliaannya nan tinggi meletakkanya sebagai salah satu daripada lima rukun Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ

“Agama Islam dibangun di atas lima perkara; bersyahadat bahawasanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beliau Muhammad itu utusan Allah, mendirikan solat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no.16, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Ibadah haji yang mulia ini tidaklah boleh dipisahkan daripada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Apatah lagi tatkala kita menyaksikan jutaan umat manusia yang datang berbondong-bondong dari segenap penjuru bumi yang jauh menuju Baitullah, menyambut panggilan ilahi dengan lantunan talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”

Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ. لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

“Dan berserulah (wahai Ibrahim) kepada manusia untuk mengerjakan haji, nescaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan menunggang unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 27-28)

Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata: “Ibadah haji mempunyai hikmah yang besar, mengandung rahsia yang tinggi serta tujuan yang mulia, dari kebaikan duniawi dan ukhrawi. Sebagaimana yang terkandung di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لِِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

“Untuk menyaksikan segala yang bermanfaat bagi mereka.” (Al-Hajj: 28)

Haji merupakan saat pertemuan yang besar bagi umat Islam seluruh dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala pertemukan mereka semua di waktu dan tempat yang sama. Sehingga terjalinlah suatu perkenalan, kedekatan, dan saling merasakan satu dengan sesamanya, yang dapat membuahkan kuatnya tali persatuan umat Islam, serta terwujudnya manfaat bagi urusan agama dan dunia mereka.” (Taudhihul Ahkam, juz 4 hal. 4)

Lebih dari itu, ibadah haji mempunyai banyak hikmah dan pelajaran penting yang apabila digali rahsianya maka sangat terkait dengan agama dan diri Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, baik di dalam hal keimanan, ibadah, muamalah, dan akhlak yang mulia. Di antara hikmah dan pelajaran penting tersebut adalah:

1. Mengwujudkan tauhid yang murni daripada noda-noda kesyirikan di dalam hati sanubari ketika para jamaah haji bertalbiyah.
2. Pendidikan hati untuk sentiasa khusyu’, tawadhu’, dan menghambakan diri kepada Rabbul ‘Alamin, ketika melakukan thawaf, wukuf di Arafah, serta amalan haji lainnya.
3. Pembersihan jiwa untuk sentiasa ikhlas dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyembelih haiwan korban di hari-hari haji.
4. Kepatuhan di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tanpa diiringi rasa berat hati, ketika mencium Hajar Aswad dan mengusap Rukun Yamani.
5. Tumbuhnya kesatuan hati dan jiwa ketika berada di tengah-tengah saudara-saudara seiman dari seluruh penjuru dunia, dengan pakaian yang sama, berada di tempat yang sama, serta menunaikan amalan yang sama pula (haji). (Lihat Durus ‘Aqadiyyah Mustafadah Min Al-hajj)

b) Menyembelih Haiwan Korban

Menyembelih haiwan korban pada hari raya Idul Adha (tanggal 10 Zulhijjah) dan hari-hari tasyriq (tanggal 11,12, 13 Zulhijjah) merupakan amalan mulia di dalam agama Islam. Di antara bukti kemuliaannya adalah bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sentiasa melakukannya semenjak berada di kota Madinah hingga wafatnya. Sebagaimana yang diberitakan sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma:

أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِيْنَةِ عَشْرَ سِنِيْنَ يُضَحِّي

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun tinggal di kota Madinah sentiasa menyembelih haiwan korban.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, dia -At-Tirmidzi- berkata: ‘Hadits ini hasan’)

Penyembelihan haiwan korban, bila dilihat sejarahnya, juga tidak lepas daripada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putera beliau Nabi Ismail ‘alaihissalam. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan dalam kitab suci Al-Qur`an:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ. فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيْمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاَءُ الْمُبِيْنُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي اْلآخِرِيْنَ. سَلاَمٌ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ

“Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai (pada umur sanggup) untuk berusaha bersama-sama Ibrahim, berkatalah Ibrahim: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahawa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia menjawab: ‘Hai bapaku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipis(nya) , (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu,’ sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (iaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (Ash-Shaffat: 102-109)

Demikianlah Ibrahim, yang sentiasa patuh terhadap segala sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepadanya walaupun berkaitan dengan diri si anak yang amat dicintainya. Tidak ada keraguan sedikit pun di dalam hatinya untuk menjalankan perintah tersebut. Ini tentunya menjadi teladan mulia bagi kita semua, di dalam hal ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Da’i (Pendakwah)

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengandungi banyak pelajaran berharga bagi para da’i. Di antara pelajaran berharga tersebut adalah:

a) Para da’i hendaknya melakukan dakwah berlandaskan ilmu syar’i. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika mendakwahi ayahnya (dan juga kaumnya):

يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian daripada ilmu yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, nescaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam: 43)

Dan demikianlah sesungguhnya jalan dakwah yang ditempuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, si uswatun hasanah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ هَذِهِ سَبِيْلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيْرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Katakanlah (hai Muhammad): ‘Inilah jalanku, aku berdakwah di jalan Allah di atas ilmu, demikian pula orang-orang yang mengikuti jejakku. Maha Suci Allah dan aku tidaklah termasuk orang-orang musyrik’.” (Yusuf: 108)

b) Para da’i hendaknya berusaha menyampaikan kebenaran yang diketahuinya secara utuh kepada umat, serta memperingatkan mereka daripada segala bentuk kebatilan. Kemudian bersabar dengan segala akibat yang akan dihadapinya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

وَإِبْرَاهِيْمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللهَ وَاتَّقُوْهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. إِنَّمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُوْنَ إِفْكًا إِنَّ الَّذِيْنَ تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ لاَ يَمْلِكُوْنَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوْهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ. وَإِنْ تُكَذِّبُوا فَقَدْ كَذَّبَ أُمَمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِيْنُ

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Beribadahlah kalian kepada Allah semata dan bertaqwalah kalian kepada-Nya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mahu mengetahui. Sesungguhnya apa yang kalian ibadahi selain Allah itu adalah berhala, dan kalian telah membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah itu tidak mampu memberi rezeki kepada kalian, maka mintalah rezeki itu dari sisi Allah dan beribadahlah hanya kepada-Nya serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan. Dan jika kalian mendustakan, maka umat sebelum kalian juga telah mendustakan dan kewajipan Rasul itu hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.” (Al-‘Ankabut: 16-18)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pun tetap bersabar dan istiqamah di atas jalan dakwah ketika mana umatnya melancarkan segala bentuk penentangan dan permusuhan terhadapnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوا اقْتُلُوْهُ أَوْ حَرِّقُوْهُ فَأَنْجَاهُ اللهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ

“Maka tidak ada lagi jawapan kaum Ibrahim selain mengatakan: ‘Bunuhlah atau bakarlah dia!’, lalu Allah menyelamatkannya daripada api (yang membakarnya) . Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” (Al-‘Ankabut: 24)

Demikian pula Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perjalanan dakwah beliau merupakan simbol kesabaran di alam semesta ini.

Sosok Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan teladan bagi para da’i secara khusus dan masing-masing individu secara umum dalam hal kepedulian terhadap keadaan umat dan negeri. Hal ini sebagaimana yang tergambar pada kandungan doa Nabi Ibrahim yang Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam Al-Qur`an:

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ أَمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ

“Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” (Al-Baqarah: 126)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Orangtua

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, merupakan cermin bagi para orangtua dalam perkara pendidikan dan agama anak cucu mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيْمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُ يِا بَنِيَّ إِنَّ اللهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan kalimat itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian, maka janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam’.” (Al-Baqarah: 132)

Bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak segan-segan berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kesolehan anak cucunya, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala abadikan dalam Al-Qur`an:

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ اْلأَصْنَامَ

“Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari perbuatan menyembah berhala.” (Ibrahim: 35)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

“Wahai Rabbku, jadikanlah aku beserta anak cucuku orang-orang yang selalu mendirikan solat. Wahai Rabb kami, kabulkanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

Setiap orangtua memikul amanat yang besar untuk menjaga anak cucu dan keluarganya daripada azab api neraka. Sehingga dia mesti memerhatikan pendidikan, agama dan ibadah mereka. Sungguh keliru apabila melihat orangtua acuh tak acuh terhadap keadaan anak-anaknya. Yang selalu diperhatikan hanyalah keadaan fizikal dan kesihatannya sementara perkara agama dan ibadahnya diabaikan. Ingatlah akan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu daripada azab api neraka.” (At-Tahrim: 6)

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Anak

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengandungi pelajaran berharga bagi para anak, kerana beliau adalah seorang anak yang amat berbakti kepada kedua orangtuanya serta selalu menyampaikan kebenaran kepada mereka dengan cara yang terbaik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِذْ قَالَ لِأَبِيْهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لاَ يَسْمَعُ وَلاَ يُبْصِرُ وَلاَ يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا. يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا. يَا أَبَتِ لاَ تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا. يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُوْنَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Ingatlah ketika dia (Ibrahim) berkata kepada bapanya: ‘Wahai bapaku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak pula dapat melihat dan menolongmu sedikitpun? Wahai bapaku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian daripada ilmu yang tidak datang kepadamu. Maka ikutilah aku, nescaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapaku, janganlah menyembah syaitan, sesungguhnya syaitan itu derhaka kepada Allah Dzat Yang Maha Pemurah. Wahai bapaku, sesungguhnya aku khuatir engkau akan ditimpa azab daripada Allah Dzat Yang Maha Pemurah, maka engkau akan menjadi kawan bagi syaitan.” (Maryam: 42-45)

Ketika si bapa menentangnya dengan keras, seraya mengatakan (sebagaimana dalam ayat):

أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيْمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

“Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti (daripada menasihatiku) nescaya kamu akan kurejam! Dan tinggalkanlah aku di dalam waktu yang lama.” (Maryam: 46)

Maka dengan tabahnya Ibrahim ‘alaihissalam menjawab:

سَلاَمٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Rabbku, sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.” (Maryam: 47)

Demikianlah sayugianya seorang anak kepada orangtuanya, selalu berusaha memberikan yang terbaik di masa hidupnya serta selalu mendoakannya di masa hidup dan juga sepeninggalnya.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan Para Suami-Isteri

Perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga mengandungi pelajaran berharga bagi para suami-isteri, agar selalu membina kehidupan rumah tangganya di atas redha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini tercermin daripada dialog antara Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan isterinya yang bernama Hajar, ketika Nabi Ibrahim membawanya beserta anaknya ke kota Makkah (yang masih tandus dan belum berpenghuni) atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diriwayatkan daripada sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Kemudian Ibrahim membawa Hajar dan si putera Ismail –di dalam usia susuan– menuju Makkah dan ditempatkan pada pohon besar, di atas (bakal/calon) sumur Zamzam di lokasi (bakal) Masjidil Haram. Ketika itu Makkah belum berpenghuni dan tidak memiliki sumber air. Maka Ibrahim menyiapkan satu bungkus kurma dan satu qirbah/bekas air, kemudian ditinggallah keduanya oleh Ibrahim di tempat tersebut. Hajar, ibu Ismail pun mengikutinya seraya mengatakan: ‘Wahai Ibrahim, hendak pergi kemana engkau, apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni ini?’ Dia mengulangi kata-kata tersebut, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Hingga berkatalah Hajar: ‘Apakah Allah yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ Ibrahim menjawab: ‘Ya.’ Maka (dengan serta-merta) Hajar mengatakan: ‘Kalau begitu Dia (Allah) tidak akan menyeksa kami.’ Kemudian Hajar kembali ke tempatnya semula.” (Lihat Shahih Al-Bukhari, no. 3364)

Atas dasar itulah, seorang suami mesti berusaha membina isterinya dan menjaganya daripada azab api neraka. Demikian pula si isteri, hendaklah mendukung segala amal soleh yang dilakukan suaminya, serta mengingatkannya bila terjatuh ke dalam kemungkaran.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikianlah mutiara hikmah dan pelajaran berharga dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang menyentuh beberapa elemen penting di dalam masyarakat kita. Semoga kilauan mutiara hikmah tersebut dapat menyinari perjalanan hidup kita semua, sehingga tampak jelas segala jalan yang membawa kepada Jannah-Nya. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Taliban Open Northern Front in Afghanistan

KUNDUZ, Afghanistan — Far from the heartland of the Taliban insurgency in the south, this once peaceful northern province was one place American and Afghan officials thought they did not have to worry about.

This month, an Afghan police officer patrolled Baluchai Alchin, near Kunduz, Afghanistan. NATO and Afghan troops recently fought insurgents around Kunduz.

Afghan officials cut the police force here by a third two years ago and again earlier this year. Security was left to a few thousand German peacekeepers. Only one Afghan logistics battalion was stationed here.

But over the last two years the Taliban have steadily staged a resurgence in Kunduz, where they now threaten a vital NATO supply line and employ more sophisticated tactics. In November, residents listened to air raids by NATO forces for five consecutive nights, the first heavy fighting since the Taliban were overthrown eight years ago.

The turnabout vividly demonstrates how security has broken down even in unexpected parts of Afghanistan. It also points to the hard choices facing American, NATO and Afghan officials even if President Obama decides to send more soldiers to Afghanistan, as he is expected to announce next week.

Even under the most generous deployments now under consideration, relatively few additional troops are expected in the north; most will be directed to the heartland of the Taliban resistance in the south and east.

Afghan and international officials say security never had to deteriorate so badly here. The Taliban were a scattered and defeated force in northern Afghanistan, long home to the strongest anti-Taliban resistance, the Northern Alliance.

But the government, and American military trainers, failed to remain vigilant to signs of Taliban encroachment, and reduced deployments in the northern provinces in order to bolster other, more volatile regions.

The decisions created vulnerabilities as Kunduz became a target with the opening of a new logistics route here for NATO supplies from Russia and Central Asia, over an American-financed bridge that opened in 2007. The route is supposed to serve as a strategic alternative to the treacherous passage through Pakistan, which is regularly attacked by Taliban militants.

Now, the Taliban have re-emerged with such force that during the presidential election in August, police officers were fending off attacks on the outskirts of the city of Kunduz, and militants were poised to overrun the center, officials said.

“The Taliban were at the door of the city; the people thought the government was at an end,” said a senior security official, who asked not to be named because of the nature of his work.

Since then, the threat has been somewhat contained after an operation by NATO and Afghan forces, but the province remains at risk.

Residents of Kunduz said they noticed that the Taliban reappeared in numbers in the region in the spring of last year.

At just that time, under pressure from the American military in charge of training the Afghan security forces, the government of President Hamid Karzai reduced the number of police officers in Kunduz to just 1,000 from 1,500, officials said. Then, earlier this year, the Interior Ministry ordered 200 police officers from every northern province to help secure the capital, Kabul, which was suffering increasingly serious attacks from insurgents.

A district like Khanabad, with a population of 350,000, has just 80 police officers now, the governor of Kunduz, Muhammad Omar, said in an interview. In the district of Chahardara, where hundreds of insurgents are at large, there are only 56 police officers, enough only to guard the district center and the main road.

“It deteriorated suddenly,” the governor said. “The first reason is that we have very few police in Kunduz considering the strategic position of our region, and our police are not able to cover the whole region.”

In fact, after their defeat in 2001, the Taliban never left the region. The insurgents lay low but remained a menace to be constantly watched, according to the former governor of Kunduz, Gen. Muhammad Daoud, now a deputy interior minister.

The Taliban, who are mostly Pashtun, draw natural support through tribal ties with Pashtuns, who make up nearly half of Kunduz’s population. Many of the fighters are local men who fled to Pakistan after 2001 and have returned in the last two years.

Central Asian fighters from a group linked to Al Qaeda, the Islamic Movement of Uzbekistan, who also took refuge in Pakistan have reappeared, Afghan security officials said. Local journalists have seen some of them. The officials, who have captured some of the insurgents, accuse Pakistan’s intelligence agency, Al Qaeda and even Iran of supporting the resurgence. Pakistan and Iran routinely deny supporting the insurgency.

Whether it is the influence of foreign fighters, or the growing capability of the Taliban and another regional militant group, Hezb-e-Islami, Western officials say the insurgency in Kunduz has grown more sophisticated, mounting coordinated suicide car bombings and ambushes.

“Clearly this year we have seen much better fighters, capable of complex attacks,” said one Western official.

China Joins U.S. in Pledge of Hard Targets on Emissions

By EDWARD WONG and KEITH BRADSHER

Published: November 26, 2009

BEIJING — The Chinese government announced Thursday that it had set a target to slow the growth of its greenhouse gas emissions by 2020, a day after the Obama administration set a provisional target for reducing United States emissions.

The Chinese offer, which focuses on energy efficiency, contrasts with the strategy of the United States and most other nations to reduce total emissions. China has resisted demands from American and European negotiators to adopt binding limits on its emissions, arguing that environmental concerns must be balanced with economic growth and that developed countries must first demonstrate a significant commitment to reducing their own emissions.

With its enormous population and breathtaking pace of economic development, China surpassed the United States two years ago as the largest emitter of greenhouse gases.

It was unclear whether the timing of China’s announcement was coincidental, though the Chinese have been preparing an opening position ahead of international talks on climate change in Copenhagen next month. In the past, Beijing has tried to avoid looking as if it has been directly influenced by American decisions.

A senior Obama administration official said that the United States had pressed hard for a public commitment from China and was relieved that it had delivered. But the official, who spoke anonymously because of the delicacy of the matter, called the carbon intensity figure “disappointing,” and said that the administration hoped it represented a gambit that would be negotiated upward at Copenhagen or in subsequent talks.

The Chinese propose, by 2020, to reduce so-called carbon intensity — or the amount of carbon dioxide emitted per unit of economic output — by 40 to 45 percent compared with 2005 levels. By that measure, emissions would still increase, though the rate would slow. That falls far short of what many in Europe and other nations had hoped for — an increase in energy efficiency of at least 50 percent.

Analysts said the Chinese offer might take some of the pressure off the United States, which is offering to reduce the total tonnage of its greenhouse gas emissions “in the range of” 17 percent below 2005 levels by 2020 and 83 percent by 2050. But now China seems to be offering almost no deviation from its business-as-usual path, a more troubling development to some.

In a sense, the Chinese offer is less ambitious than the American proposal because China is already well on the way to its target with existing energy efficiency initiatives, while the American offer would require changes in many government policies. American efforts, though, have been mired in Congressional infighting.

Yet the offers by the United States and China both amount to politically safe opening bids in what is likely to be a long, tough process of negotiations on concrete steps that the two countries should take to address climate change.

How that will play out in Copenhagen, where nations will negotiate terms for a post-2012 treaty on reducing emissions, or in follow-up sessions next year, is unclear.

President Obama discussed climate change with Hu Jintao, the Chinese president, when the two met in Beijing on Nov. 16. Officials from the two countries were in talks on the issue under President George W. Bush, but Mr. Obama earlier this year made climate change a top priority in diplomacy between the governments.

China’s arguments about balancing environmental concerns with economic growth resonate with other developing countries like India, and both countries propose slowing the growth of emissions relative to the growth of their economies.

The target announced Thursday “is not so low that China can get to it easily without actual effort, nor is it too high to believe,” said Jin Jiaman, executive director of the Global Environmental Institute, an advocacy group based in Beijing.

China, India and the United States are expected to be crucial players among the 190 or so nations at the meetings in Copenhagen. Leaders have said they do not expect to come to a firm agreement there.

The State Council, China’s cabinet, said Thursday that fixing the target for 2020 was a “voluntary action” taken by the Chinese government “based on our own national conditions,” according to the state-run news agency Xinhua. Chinese officials also announced Thursday that Prime Minister Wen Jiabao would attend the Copenhagen talks.

Michael A. Levi, director of the climate change program at the Council on Foreign Relations, called the target announcement disappointing because it did not move the country much faster along the path it was already on.

“The Department of Energy estimates that existing Chinese policies will already cut carbon intensity by 45 to 46 percent,” Mr. Levi said. “The United States has put an ambitious path for emissions cuts through 2050 on the table. China needs to raise its level of ambition if it is going to match that.” Some environmental advocates have also said that the substance of Mr. Obama’s announcement on Wednesday was weak as well.

Ahead of Copenhagen, China has been trying to deflect criticism by showing that it can make commitments to battling climate change. In September, Mr. Hu said at the United Nations that China would slow its emissions growth by 2020, but drew some criticism by not giving a target at the time.

Both Washington and Beijing face domestic pressure from business and political constituencies pressing their governments not to make energy and environmental pledges that could limit economic growth during a recession. Members of Congress made it abundantly clear to the Obama administration that they would not approve any treaty that did not include a firm promise from major developing countries, particularly China and India, to at least slow the growth of emissions.

Meanwhile, the two countries have come under increasing pressure from European and other nations to bring some sort of commitment to the Copenhagen talks or risk their total collapse. Officials in China and the United States waited until just two weeks before the start of the conference before putting their offers on the table.

Some analysts said China might be unwilling to make larger commitments until Congress passed stalled legislation on emissions reduction targets.

The figures released by the White House on Wednesday were based on targets specified by legislation that passed the House in June but is stalled in the Senate. Congress has never enacted legislation that includes firm emissions limits or ratified an international global warming agreement with binding targets.

“China is in a more comfortable negotiating position,” Yang Ailun, the climate and energy campaign manager for Greenpeace China, said earlier this month. “In fact, every country is in a more comfortable negotiating position than the U.S. right now.”

Edward Wong reported from Beijing, and Keith Bradsher from Hong Kong. John M. Broder contributed reporting from Washington, James Kanter from Brussels and Jonathan Ansfield from Mequon, Wis. Zhang Jing contributed research from Beijing.

Saturday, November 21, 2009

Top 10 Reasons to SMILE..

1. Smiling Makes Us Attractive

We are drawn to people who smile. There is an attraction factor. We want to know a smiling person and figure out what is so good. Frowns, scowls and grimaces all push people away -- but a smile draws them in.

2. Smiling Changes Our Mood

Next time you are feeling down, try putting on a smile .. �There's a good chance you mood will change for the better. Smiling can trick the body into helping you change your mood.

3. Smiling Is Contagious

When someone is smiling they lighten up the room, change the moods of others, and make things happier. A smiling person brings happiness with them. Smile lots and you will draw people to you.

4. Smiling Relieves Stress

Stress can really show up in our faces. Smiling helps to prevent us from looking tired, worn down, and overwhelmed. When you are stressed, take time to put on a smile. The stress should be reduced and you'll be better able to take action.

5. Smiling Boosts Your Immune System

Smiling helps the immune system to work better. When you smile, immune function improves possibly because you are more relaxed. Prevent the flu and colds by smiling.

6. Smiling Lowers Your Blood Pressure

When you smile, there is a measurable reduction in your blood pressure. Give it a try if you have a blood pressure monitor at home. Sit for a few minutes, take a reading. Then smile for a minute and take another reading while still smiling. Do you notice a difference?

7. Smiling Releases Endorphins, Natural Pain Killers and Serotonin

Studies have shown that smiling releases endorphins, natural pain killers, and serotonin. Together these three make us feel good. Smiling is a natural drug.

8. Smiling Lifts the Face and Makes You Look Younger

The muscles we use to smile lift the face, making a person appear younger. Don't go for a face lift, just try smiling your way through the day -- you'll look younger and feel better.

9. Smiling Makes You Seem Successful

Smiling people appear more confident, are more likely to be promoted, and more likely to be approached. Put on a smile at meetings and appointments and people will react to you differently.

10. Smiling Helps You Stay Positive

Try this test: Smile. Now try to think of something negative without losing the smile. It's hard.. When we smile our body is sending the rest of us a message that "Life is Good!" Stay away from depression, stress and worry by smiling.

Friday, November 20, 2009

The Twilight Saga: New Moon (2009)

Abstinence Makes the Heart ... Oh, You Know

By MANOHLA DARGIS

Published: November 20, 2009

The big tease turns into the long goodbye in “The Twilight Saga: New Moon,” the juiceless, near bloodless sequel about a teenage girl and the sparkly vampire she, like, totally loves. When last we saw Bella (Kristen Stewart) and her pretty dead guy, Edward (Robert Pattinson), in “Twilight” — the series hadn’t been saga-fied yet — the two had pledged their troth, a chaste commitment solidified during moody walks in the woods, some exhilarating treetop scrambling and a knockdown fight with a pack of vamping vampires.

But love is cruel and sometimes so too are multivolume juggernauts like Stephenie Meyer’s “Twilight” series, which, because they need a prolonged shelf life, are as much about narrative delay (and delay) as release and resolution. That’s particularly the case here given that Edward belongs to a stylish vampire clan that has given up human blood in order to live, if conspicuously out of place, in a Washington town called Forks. Abstinence is the name of this franchise’s clever game — a demographically savvy strategy that the filmmakers exploit with a parade of bared male chests — which is why Edward refuses to stick his teeth in Bella’s unsullied neck, despite her increasingly feverish pleading.

The problem, already evident in the first movie, is that a vampire who doesn’t ravish young virgins or at least scarily nuzzle their flesh isn’t much of a vampire or much of an interesting character, which initially makes Edward’s abrupt and extended disappearance from the second film seem like a good idea. “New Moon” opens with a seemingly content Bella turning 18, a happy occasion that takes a frightening turn during a party at Edward’s house. While the rest of the vampires ghoulishly beam at her with their amber cat eyes, Bella accidentally pricks her finger while opening a gift, sending a drop of blood onto the carpet and one of the less-repressed vampires, Jasper (Jackson Rathbone), into a violent frenzy.

Edward saves Bella, but soon decides to split town. Dead or alive, men can be brutes (authors too): he also tells her that she’s not good for him, leaving her bereft. This act of cruelty throws her into a long depression that the director Chris Weitz (“The Golden Compass,” “About a Boy”), having taken the filmmaking reins from the sloppier if more energetic Catherine Hardwicke, tries to translate into cinematic terms, mostly by circling Bella with the camera as the months melt away. Ms. Stewart’s darkly brooding looks are convincing, but her lonely-girl blues soon grow wearisome, as does the spinning camera. Happily, there’s another attractive diversion in the wings in the form of her friend Jacob (Taylor Lautner), a member of a mysterioso Indian tribe, who brightens her mood with his blindingly white smile.

Jacob has secrets of his own that soon emerge, first in the form of some massive biceps. My, what big muscles you have, Bella tells him, nicely exposing her inner wolf. Alas, Bella, whose palpable hunger for Edward gave the first movie much of its energy and interest, has been tamped down for “New Moon,” partly because she’s in mourning, though largely because a ravenous female appetite wouldn’t work with this story’s worldview. (Melissa Rosenberg’s screenplay is dutifully subservient to the source material.) So, while Jacob’s body grows harder and harder before Bella’s widening eyes, she looks — mirroring the audience’s appreciative gaze — but doesn’t at first touch. Even when they start fixing up some old motorcycles, hands brushing and engines gunning, the relationship remains safely in neutral.

Bella, of course, belongs to Edward, who, though physically gone, hasn’t left the picture. Every so often he materializes in hazy, semi-transparent form to caution her about something, much as Woody Allen’s fictional mother does when she nags from the sky in “New York Stories.” Realizing that her vampire has gone guardian angel on her, Bella, like a classic crazy ex, begins throwing herself into ever more dangerous situations to summon him. Although this perks up the slack proceedings, the spectral image of Edward only underscores how damaging it is to separate Romeo from Juliet, even if there’s a hormonally revved-up teenage wolf lurking in the shadows. Chastity is only hot, after all, when it seems like it actually might be violated.

There’s more — the book is another doorstopper — crammed between the weeping and dolorous gazes, including a pack of snarling, not terribly effective CGI wolves. They’re amusing if not as diverting as either Dakota Fanning or Michael Sheen, who pop up in a late-act detour to Italy, where the vampires, unlike their puritanical American cousins, still like to drink. (In a rare moment of narrative wit, Bella flies Virgin.) Mr. Sheen, who’s carved out a twinned specialty playing Tony Blair (in three movies) and vampires (four), preens with plausible menace. But it’s Ms. Fanning, with the cruel eyes and sleekly upswept hair suggestive of an underage dominatrix, who shows real bite. Mr. Weitz doesn’t know what to do with her, but when she smiles, you finally see the darker side of desire.

“The Twilight Saga: New Moon” is rated PG-13. (Parents strongly cautioned.) Some bared fangs, little blood, no sex.

THE TWILIGHT SAGA

New Moon

Opens on Friday nationwide.

Directed by Chris Weitz; written by Melissa Rosenberg, based on the novel “New Moon” by Stephenie Meyer; director of photography, Javier Aguirresarobe; edited by Peter Lambert; music by Alexandre Desplat; production designer, David Brisbin; produced by Wyck Godfrey and Karen Rosenfelt; released by Summit Entertainment. Running time: 2 hours 10 minutes.

WITH: Kristen Stewart (Bella Swan), Robert Pattinson (Edward Cullen), Taylor Lautner (Jacob Black), Ashley Greene (Alice Cullen), Rachelle Lefevre (Victoria), Billy Burke (Charlie Swan), Peter Facinelli (Dr. Carlisle Cullen), Nikki Reed (Rosalie Hale), Kellan Lutz (Emmett Cullen), Jackson Rathbone (Jasper Hale), Anna Kendrick (Jessica), Michael Sheen (Aro) and Dakota Fanning (Jane).

Thursday, November 19, 2009

Jika bersyukur

Syaithon membuka hakikat penting

Ketika di perintahkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala sujud kepada Nabi Adam 'alaihi salaam, syaithon menolak melaksanakan perintah ini. Akibatnya dia di usir, di ancam di masukkan neraka, dan di masukkan ke dalam jajaran makhluk yang terkutuk. Tapi dengan sikap pongah, yang malah menunjukkan kebrengsekannya, mereka berjanji akan menyesatkan anak keturunan Adam 'alaihis salam' yang menurutnya menjadi biang keladi pengusirannya dari surga.

"Saya benar-benar akan (menghalang- halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. Al-‘Araf: 16-17).

Disini, syaithon membuka hakikat penting yang tidak di ketahui banyak orang, yaitu mayoritas besar manusia tidak bersyukur kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan orang yang selamat di antara mereka adalah orang yang bersyukur.

Syukur

Kalimat (شَكَرَ الدَّابَّةُ) "syakarot Ad-dabbatu” maksudnya unta itu gemuk. Unta di katakan gemuk jika terlihat padanya tanda-tanda makanan yang telah dimakannya. Untuk di katakan syukur jika terlihat padanya kegemukan melebihi kadar porsi makanan yang telah di makannya. (lihat Uddatu Ash-Shobirin: 122).

Hai keluarga Daud, Lakukan Syukur Kepada Alloh! Subhanahu wa Ta’ala.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman kepada Nabi Daud 'alaihis salam :

{اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا}

"Lakukanlan wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Alloh).” (QS. Saba' [34]: 13).

Namun Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman "lakukan" ini menandaskan syukur tidak terealisir dengan sempurna, kecuali dengan mengamalkan perintah Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya. Jadi syukur ialah realisasi ibadah itu sendiri. Ini tidak seperti yang dipahami sebagian besar orang bahwa syukur itu memuji Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan lidah, atau hanya komat-kamit setelah sholat, atau setelah makan kenyang.

Rosululloh Sholallohu 'alaihi wa Sallam Menerjemahkan Syukur ke Dalam Tindakan Nyata.

Aisyah rodhiallohu 'anha merasa heran dengan qiyamul lail (sholat malam) Rosululloh Sholallohu 'alaihi wa Sallam. Beliau melakukannya hingga kedua kaki beliau bengkak. Dengan nada takjub dan penuh tanda tanya, Aisyah rodhiallohu 'anha berkata: "Engkau masih berbuat seperti ini, padahal Alloh telah mengampuni dosa-dosa silammu dan dosa-dosamu pada masa mendatang". Rosululloh Sholallohu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?" (HR. Bukhori dan Muslim)

Rosululloh Sholallohu 'alaihi wa Sallam tidak memahami syukur sebatas ucapan, pujian dengan lidah. Menurut beliau, syukur adalah upaya seluruh anggota tubuh untuk mengerjakan apa saja yang diridhoi pemberi nikmat (Alloh Subhanahu wa Ta’ala).

Seluruh makna syukur ini dirangkum Ibnu Al-Qoyyim rohimahulloh dengan perkataannya: "Syukur adalah terlihatnya tanda-tanda nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala pada lidah hamba-Nya dalam bentuk pujian, dihatinya dalam bentuk cinta kepada-Nya, dan pada organ tubuh dalam bentuk taat dan tunduk". (lihat Tahdzib Madariju As-Salikin: 384).

Bentuk konkrit syukur adalah lidah tidak yang menyunjung selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan dihati tidak ada kekasih kecuali Dia. Kalaupun seseorang mencintai orang lain, ia mencintainya karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Lalu cinta ini dialihkan ke organ tubuh, kemudian seluruh organ tubuh mengerjakan apa saja yang diperintahkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi apa saja yang dilarang-Nya. Itulah figur orang syukur sejati.

Dan terhadap nikmat Robbmulah, Hendaklah Kamu Menyebut-nyebutnya!

{وَ أَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ}

Yang dimaksud menyebut-nyebut pada ayat diatas adalah menyebutkan nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala pada diri seseorang. Misalnya, dengan mengatakan:" Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberiku nikmat ini dan itu". Atau makna lainnya ialah berdakwah ke jalan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, menyampaikan risalah-Nya, dan mengajar ummat. Yang benar, ayat diatas mencakup kedua makna itu.

Seseorang perlu ingat saat dirinya berada dalam kesesatan dan bodoh, lalu bagaimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya dari kegelapan pekat itu kepada cahaya terang berderang. Ini seperti yang dilakukan Umar bin Khoththob rodiyallohu 'anhu, ia ingat saat dirinya berkubang dalam kejahiliyahan dan makan tuhannya dari kurma. Ia pun tertawa ketika ingat masa lalunya yang lucu itu. Setelah menjadi kaya, seorang muslim harus ingat bagaimana kondisi dirinya saat miskin. Ia mesti ingat hari-hari saat ia berada dalam ujian dan ruang geraknya dibatasi sebelum pindah ke tempat lain, atau sebelum situasi berubah. Ia ingat bagaimana badai ujian barlalu, lantas Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya dari badai itu. Demikianlah, ia ingat nikmat-nikmat seperti itu, lalu di tinadaklanjuti dengan da'wah ke jalan Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Syukur Umum dan Syukur Khusus.

Setelah keterangan di atas, maka menjadi jelas bagi kita bahwa syukur terbagi ke dalam dua jenis: syukur umum dan syukur khusus.

Syukur umum terkait dengan dunia. Misalnya bersyukur atas nikmat seperti pakaian, makanan, harta, kesehatan, dan kendaraan.

Sedang syukur khusus terkait dengan akhirat. Misalnya bersyukur atas nikmat iman, tauhid, hidayah, bimbingan hingga bisa beribadah, isteri sholihah, anak-anak sholih, dan urusan akhirat lainnya.

Tragisnya sebagian besar manusia hanya mengerjakan syukur umum, karena menurut mereka manfaatnya bisa dirasakan secara langsung. Memang seperti itulah watak manusia.

Syarat-Syarat Syukur.

Ibnu Qoyyim rohimahulloh berkata: "Syukur seseorang terasa lengkap jika memenuhi tiga syarat dan dikatakan orang bersyukur jika melengkapi ketiga syarat itu. Ketiga syarat tersebut adalah sebagai berikut:

1) Ia mengakui nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala pada dirinya.

2) Ia menyanjung Alloh Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat itu.

3) Ia menggunakan nikmat itu untuk mendapatkan keridhoan-Nya" .

Mengakui nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala pada diri kita bisa di lakukan dengan cara kita tidak mengklaim nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala itu kita peroleh murni karena keahlian, atau pengalaman, atau usaha, atau jabatan, atau status sosial, atau kekuatan kita. Tapi, kita nyatakan nikmat pada dirinya itu murni berasal dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Qorun mengklaim nikmat pada dirinya itu murni ia peroleh karena keilmuannya. Karena itu Alloh Subhanahu wa Ta’ala menenggelamkannya beserta istana ke dalam bumi.

Jika seseorang mengakui nikmat pada dirinya berasal dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala, otomatis ia menyanjung-Nya atas nikmat-nikmat itu. Jika seseorang menyakini Alloh Subhanahu wa Ta’ala pemberi nikmat dan menyanjungnya, maka ia tidak etis menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Misalnya ia mengembangkan hartanya hanya secara ribawi, atau seseorang diberi kesehatan tapi ia mendzolimi orang lain.

Jika kita melengkapi ketiga syarat syukur itu, maka Alloh Subhanahu wa Ta’ala pasti menambah nikmat–Nya pada kita dan memeberkahi nikmat-Nya pada kita, karena Dia berfirman:

{لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَ لَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ}

"Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim [14]: 7)